Pemasar Yang Lentur
Ada dua barang dan satu makhluk bernyawa yang
bisa mewakili makna lentur, yaitu tongkat galah,
peredam kejut dan pebalet. Ketiganya punya unsur
tangguh, tidak mudah patah, tidak kaku dan 'penuh
energi'.
Tongkat galah mampu melontarkan pelompat galah
sampai lebih dari lima meter. Tongkat galah bisa
dilengkungkan tanpa khawatir patah, dan semakin
melengkung akan semakin punya tenaga.
Demikian juga peredam kejut, 'tidak
bosan-bosannya' mendapat tekanan dan tetap kembali
ke posisi awal. Tidak hanya peredam kejutnya yang
bergerak, tetapi juga mampu mengangkat 'pantat'
pengendara motor.
Sementara itu, kalau menikmati pertunjukan balet
profesional, kita akan mendapat suguhan kelincahan
pebalet menerjemahkan musik lewat tarian. Tentu saja
hiburan utamanya bukan menikmati wajah atau
penampilan fisik pebalet, tetapi memerhatikan
kelenturan tubuhnya. Meliuk mengikuti irama musik,
menekukkan badan sampai seperti siput, dan dalam
hitungan detik langsung melompat tinggi sambil
berlari kian kemari.
Seperti pebalet, tongkat galah atau peredam kejut
yang lentur, maka seorang pemasar tangguh juga
haruslah seseorang yang punya daya lentur tinggi.
Bagaimana caranya menjadi pemasar seperti seorang
pebalet yang lentur? Apa maksudnya menjadi pemasar
yang punya daya lentur?
Ada yang mendefinisikan pemasaran sebagai proses
sosial dan manajerial yang dilalui seseorang atau
sekelompok orang untuk mendapatkan apa yang
diinginkan dan dibutuhkannya, dengan cara
menghasilkan atau bertukar produk dan nilai dengan
pihak lain. Ada juga yang mengatakan bahwa pemasaran
adalah filosofi bisnis untuk membuat apa yang bisa
kita jual.
Saya akan mengartikan pemasar dari unsur
pembentuk katanya. Pemasar bisa diterjemahkan bebas
sebagai orang yang memasarkan sesuatu. Tentu saja
dalam memasarkan sesuatu tadi, seorang pemasar perlu
melakukan persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan
koreksi secara objektif; baik secara sendiri-sendiri
maupun bersama rekan pemasar lain, dan bahkan rekan
kerja lain di organisasi sendiri dan organisasi
lain.
Situasi unik seperti ini membuat para pemasar
bisa berinteraksi positif dengan personel di
organisasi lain yang bahkan bisa jadi berada di
perusahaan lain yang menjadi kompetitornya.
Dibutuhkan pemasar yang tidak hanya punya kompetensi
teknis tetapi juga soft competence atau kepribadian
yang luwes.
Seorang pemasar profesional tidak boleh kalah
lentur dibandingkan tongkat galah, peredam kejut
atau pebalet. Pemasar perlu punya kelenturan
sekaligus etika dan etos kerja unggul.
Pemasar tidak sama dengan penjual. Ada beberapa
karakterisitik serupa antara penjual dan pemasar,
hanya saja karena tuntutan teknisnya berbeda maka
diperlukan modal dasar yang berbeda. Berbeda dengan
pemasar, seorang penjual perlu punya kegigihan untuk
menggolkan niatnya dalam rangka membuat konsumennya
mau merogoh kocek dan membeli.
Seseorang bisa saja punya tugas ganda sekaligus
sebagai penjual dan pemasar. Dalam kerangka 7n1
Competition Objective, kedua profesi tadi (sebagai
penjual dan pemasar) punya kewajiban sama yaitu
meraih sales, market share, awareness, image,
satisfaction, loyalty, stakeholder value dan growth.
Hanya saja komposisi bobot target kerjanya berbeda.
Seorang penjual punya perhatian dan bobot
indikator pada sales, market share dan stakeholder
value melalui keuntungan yang lebih tinggi.
Sementara itu, pemasar punya konsentrasi pekerjaan
yang lebih condong ke pembentukan awareness, image
dan customer loyalty.
Kembali ke bahasan menjadi seorang pemasar yang
berdaya lentur, diperlukan beberapa hard and soft
competencies yang diramu dalam Marketer Competency
berikut.
- Kemampuan melakukan riset pasar dan
menganalisis temuan riset
- Kemampuan memahami pasar dan memetakan konsumen
- Kemampuan memahami kompetitor dan memetakan
kompetisi
- Kemampuan memahami proses distribusi dan
merancang program distribusi
- Kemampuan berkomunikasi dan memanfaatkan media
komunikasi pemasaran
- Kemampuan merancang strategi kompetisi
- Sikap proaktif, beretika dan percaya diri
- Daya lentur
Daya lentur sebagai karakteristik seorang pemasar
bisa diimplementiasikan dalam beragam bentuk. Ketika
seorang pemasar berperan merancang program
komunikasi pemasaran misalnya, kelenturan
ditunjukkan dengan mengakomodasi berbagai
kepentingan seperti aspek efektivitas dan efisiensi
serta mengintegrasikan keyakinannya akan bauran
komunikasi pemasaran yang paling ideal untuk kondisi
tertentu.
Ini pulalah yang diperlukan oleh PT Johnson &
Johnson Indonesia untuk menggiring persepsi
masyarakat akan fungsi obat kumur yang tidak hanya
sebagai penghilang bau mulut, tetapi lebih sebagai
obat terapi untuk melenyapkan kuman di sela-sela
gigi dan gusi.
Ketika anak saya yang berumur 7 tahun disuruh
dokter gigi untuk berkumur setiap hari karena
giginya ada yang bolong, tetapi tidak bisa lagi
ditambal, maka dia perlu penjelasan mengapa gigi
yang bolong bisa sembuh dengan cairan yang rasanya 'pedas'
itu.
Setelah diberi penjelasan singkat, dia tampaknya
cukup mengerti, tetapi karena tidak terlalu tahan 'pedas',
kami pun berkeliling mal untuk mencari obat kumur
yang tidak 'pedas'.
Akhirnya, dia berhasil menemukan obat kumur
Listerine rasa jeruk, salah satu rasa yang paling
digemarinya. Ternyata, obat kumur zaman sekarang
tidak lagi hanya yang pedas menyengat, tetapi sudah
disesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Dalam situasi seperti ini, pemasar yang punya
daya lentur tidak perlu menjadi seseorang yang
argumentatif dan kalau perlu 'bawel' mempertahankan
pendiriannya. Pemasar harus bisa memperagakan
pemahaman pasar dan kompetisi sebagai alat
berargumen.
Daya lentur pemasar juga mengandung makna bahwa
seorang pemasar haruslah punya sikap percaya diri
yang memadai atas dasar gambaran peta pasar,
kompetisi dan jalur distribusi. Dalam hal ini,
pemasar perlu bersehati dengan para penjual untuk
ditempa dan menunjukkan sikap tidak mudah menyerah.
Bagaimana caranya menjadi pemasar yang lentur?
Belajar, berlatih dan terus mempraktikkan diri
merupakan cara efektif untuk menjadi pemasar
profesional yang lentur. Keberhasilan bisnis zaman
sekarang memang membutuhkan pemasar-pemasar lentur.
(Handito Hadi Joewono,
President Arrbey Indonesia)
|