Yang Muda,
yang Sukses, dan Berjaya
Jangan pernah menjadi tua, tanpa pernah menjadi
dewasa" (Dom Helder Camara)
Pembaca, pada edisi-edisi sebelumnya, saya pernah
membicarakan tentang usia dan kesuksesan. Saya
menulis tentang orang-orang yang sudah uzur tetapi
sukses. Artikel ini mendapat tanggapan menarik.
Dalam mailbox saya, seorang mengirim surat dan
bertanya bagaimana kalau justru kendala sukses
adalah usia muda. Tentu saja, sekali lagi, usia
bukanlah faktor penentu orang mampu meraih
kesuksesan atau kegagalan.
Ada anggapan, usia berpengaruh dalam
produktivitas dan kesuksesan orang bila dikaitkan
dengan banyaknya pengalaman. Orang yang
berpengalaman pasti mempunyai intuisi dan kepekaan
mengambil langkah dan tindakan. Katakanlah
asam-garamnya benar-benar sudah penuh untuk merajut
prestasi. Tapi, jangan salah sangka. Sejarah
membuktikan banyak orang muda yang meraih prestasi
dan sukses.
Nah, mari berbicara tentang orang muda. Banyak
orang yang mengamini masa muda sebagai masa penuh
gairah, cita-cita, dan mimpi. Tapi, tak jarang juga
yang merasa masa muda sebagai satu 'halangan' untuk
sebuah kesuksesan.
Ada yang menunda kesuksesannya dengan berpikir,
"Ah, aku ini kan masih muda" atau "Okelah, saya
masih punya banyak waktu untuk belajar", "Pelan-pelan
saja, masih banyak waktu kok!", atau "Kayaknya,
untuk bidang saya, orang biasa mencapai kesuksesan
setelah umurnya di atas 40 tahun deh. Jadi, sulit
bagiku untuk diakui dalam usia yang masih bau kencur
ini."
Perasaan rendah diri orang muda ini layak dikikis.
Semangat untuk tidak menanti sempurna sebaiknya
menjadi energi. Kadang masyarakat cukup jahat dengan
melabeli orang muda sebagai yang belum matang, belum
bisa apa-apa, belum banyak pengalaman, dan
sebagainya.
Hal ini mirip bunyi iklan yang mengatakan, "Yang
muda, yang tidak dipercaya". Tapi, singkatnya, yang
jelas, betapapun mudanya usia kita, semuanya
dipanggil untuk menyingsingkan lengan baju, mulai
bekarya, tanpa harus menunggu diri sempurna, punya
banyak pengalaman dulu, atau berbagai 'excuse'
lainnya.
Empat alasan
Mari belajar dari David J. Schwartz. Dalam
bukunya berjudul The Magic of Thinking Big, David
Schwartz mengatakan ada empat dalih (excuses) yang
umumnya dipakai orang untuk menjadi alasan dirinya
tidak sukses atau tidak berani mengambil risiko.
Keempat alasan itu adalah kesehatan, intelegensi,
usia, dan nasib.
Mari kita perhatikan potongan kisah sukses
orang-orang terkenal. Bill Gates lahir pada 1955.
Tapi, dalam usia 25 tahun dia sudah memberanikan
diri dan berhasil menjalin kerja sama dengan
perusahaan raksasa IBM. Sepuluh tahun kemudian di
usia yang masih muda juga, Gates mampu meluncurkan
Window versi 3.0. Tidak lama kemudian, Gates menjadi
seorang jutawan. Hingga sekarang, Bill Gates masuk
daftar orang terkaya di dunia.
Masih ada orang muda selain Bill Gates yang
mencapai puncak kesuksesan setelah mengalami
perjalanan panjang dengan merangkak dari bawah.
Bukan lantaran mereka mendapat warisan dari
orangtuanya atau KKN, tetapi berkat keberanian,
kreativitas, dan kerja keras. Sebut saja Marc
Andersen dengan Netscape-nya, termasuk Steve Job
dengan kemahiran di bidang IT, juga kita masih bisa
menyebut sederet nama besar di dunia lainnya.
Di Indonesia, kita punya beberapa contoh yang
bisa menjadi inspirasi dan motivasi meraih prestasi
dan kesuksesan di masa muda. Ada Nelson Tansu Ph.D
kelahiran 1977 yang menjadi profesor di Lehigh
University dengan fokus di bidang semikonduktor.
Dengan belasan penghargaan yang dia terima, oleh
sebuah majalah berita terkemuka nasional, dia
dinobatkan sebagai salah satu orang yang berpengaruh
di Indonesia pada 2006.
Di bidang musik, kita mengenal Anggun C. Sasmi
yang sudah go international sejak umur 19 tahun.
Enam tahun kemudian namanya melejit ke blantika
musik internasional saat lagu Snow on the Sahara
menduduki top ten tangga lagu dunia.
Ada juga Anne Ahira, gadis muda kelahiran Bandung
yang dikenal sebagai Internet marketer dunia. Saat
usianya 25 tahun, penghasilannya sudah ribuan dolar
AS. Kelahiran 1979 itu pun sudah dikenal oleh media
internasional.
Di dunia film, lahir sineas-sineas muda seperti
Riri reza, Mira Lesmana, Nia Dinata yang film-filmnya
turut tampil di festival film dunia. Masih banyak
yang lain entah di bisnis, politik, media, dan
sebagainya. Kita sepakat semua kesuksesan itu bukan
hoki semata. Ada kerja keras, kehendak kuat, dan
fokus. Sepertinya, orang muda benar-benar sedang
merayakan kemudaannya dengan mengukir prestasi.
Inilah abad orang muda.
Muda dan sukses
Ada tiga poin penting yang bisa dipelajari dari
kisah orang muda sukses tadi. Pertama,
keberanian mengambil risiko (risk taker). Kita perlu
lepas atau meninggalkan zona kenyamanan (comfort
zone) kita.
Anggun meninggalkan kemapanannya untuk bertarung
di panggung dunia. Padahal, saat itu di kancah musik
nasional, namanya sudah diakui, toh dia tidak cepat
berpuas diri. Memang, kita bisa belajar dari Anggun
bahwa tidaklah mudah mencoba sesuatu yang baru.
Tapi, masa muda adalah masa yang paling baik
untuk menantang dan mengambil risiko dengan
melepaskan diri dari zona nyaman kita. Mumpung masih
muda, keberanian mengambil risiko adalah kunci. No
risk, no gain.
Kedua, fokus pada bidangnya.
Rata-rata, mereka yang sukses selalu fokus pada
bidangnya. Mereka bukanlah all rounds yang mencoba
menguasai semua hal, tapi fokus dan profesional pada
kemampuan mereka. Mereka menjadi pakar dan sangat
hebat di bidangnya. Mereka membawa personal brand-nya
sendiri. Ironisnya, banyak orang muda ingin sukses
tetapi tidak membangun personal mastery atau
keunggulan pada diri. Banyak yang tidak sabar untuk
membangun. Anggun membutuhkan enam tahun sampai
lagunya dinikmati dunia.
Ketiga, menciptakan peluang
sukses sendiri. Karena mempunyai mimpi, hasrat, dan
energi, mereka tiddak menyia-nyiakan peluang. Mereka
tidak bermental menunggu. Mereka belajar dari banyak
orang dan membangun jejaring dengan siapa saja.
Semua hal ini akhirnya menjadi cara memuluskan
langkah sukses mereka.
Nah, berbahagialah mereka yang masih muda dan
masih berjiwa muda. Semangat muda adalah semangat
kehidupan. Meski umur sudah tua, tapi jiwa tidak
boleh renta. Kemudaan identik dengan optimisme,
gairah, kreativitas, elan vital, dan sebagainya.
Benar pendapat Simone de Beauvoir, lawan hidup
bukanlah kematian, tetapi kerentaan. So, tetaplah
berjiwa muda!
(Anthony Dio Martin,
Psikolog, penulis buku best seller EQ Motivator, dan
Managing Director HR Excellency)
|