Citra Merk
Membangun merek yang top membutuhkan strategi
yang terumuskan dengan baik, mulai dari strategi
mempertahankan dan meningkatkan awareness konsumen,
pangsa pasar, hingga mempertahankan dan meningkatkan
loyalitas pelanggan.
Salah satu elemen yang dapat dikelola dalam
rangka mencapai tiga hal tersebut adalah citra merek.
Image dari suatu merek tercipta melalui strategi
pemasaran yang berupaya "menancapkan" asosiasi yang
penting dalam proses pengambilan keputusan konsumen
dalam proses pembeliannya.
Ketika sebuah merek tidak memiliki asosiasi yang
memenuhi tiga atribut tersebut, maka merek menjadi
sangat lemah, bahkan bisa masuk ke dalam kategori
komoditas.
Komoditas merupakan mimpi terburuk bagi manajer
sebab alasan utama konsumen untuk membeli barang
komoditas adalah harga. Karena itu, asosiasi yang
memenuhi tiga atribut tadi menjadi sangat penting
dalam membangun merek top.
Asosiasi seringkali menjadi faktor kunci dalam
proses pembelian konsumen. Ia merupakan
penyederhanaan atas kompleksitas informasi yang ada
dan tersedia. Ketika konsumen hendak membeli mobil,
asosiasi seperti irit atau mewah atau aman bisa jadi
merupakan faktor penentu merek yang dipilih.
Banyak teknik yang dapat digunakan, di antaranya
Thurstonian Scaling yang dapat memberikan informasi
mengenai atribut-atribut yang penting bagi konsumen
dalam proses pembelian/konsumsi produk atau jasa
berikut dengan rasio kepentingan antara atribut yang
satu dengan yang lain. Di samping itu, teknik
Conjoint Analysis dapat juga diterapkan.
Atribut aman dalam sebuah obat sakit kepala bagi
konsumen Indonesia, jika disurvei, sudah pasti tidak
akan sepenting atribut cepat menghilangkan rasa
sakit. Demikian juga atribut aman bagi lingkungan
pada produk pestisida.
Untuk menguji apakah atribut tertentu melekat
kuat pada suatu merek dapat digunakan dengan melihat
brand rating.
Semakin tinggi brand rating dari suatu merek maka
semakin kuat pula atribut tersebut melekat di merek
yang dimaksud. Untuk kategori produk mobil MPV,
Toyota Kijang sudah pasti kuat di atribut irit,
resale value tinggi, dan lain sebagainya. Demikian
juga dengan kategori produk. Atribut nikmat pasti
melekat kuat pada merek Kapal Api.
Terakhir, untuk mengukur keunikan sebuah merek,
metode front: BPI (brand positioning index) dapat
digunakan. Metode ini berupaya mengungkapkan
ownership sebuah merek terhadap atribut tertentu
dengan teknik dekomposisi.
Sebuah indikator yang memungkinkan pengelola
merek untuk mengetahui atribut mana yang unik (tidak
dimiliki oleh merek pesaing) bagi mereknya berikut
dengan indeks keunikannya.
Dari hasil survei Frontier Consulting Group
terhadap merek pasta gigi dengan menggunakan metode
front: BPI, ditemukan bahwa atribut menjaga
kesehatan gigi merupakan atribut yang unik bagi
Pepsodent.
Alternatif lain bagi front: BPI adalah dengan
menggunakan metode perceptual mapping. Tetapi,
perceptual mapping tidak dapat menggambarkan
seberapa kuat keunikan atribut tertentu bagi sebuah
merek.
Ia hanya dapat memberikan gambaran
atribut-atribut mana yang unik bagi sebuah merek.
(Handi Irawan D.,
Chairman of Frontier Consulting Group)
|